15 September 2011

Selamat Jalan "Teman". Waktunya untuk Berpisah



Telah ditemukan sebuah penyakit yang sangat berbahaya bagi para pelajar khususnya “MAHASISWA”. Penyakit yang tidak teridentifikasi oleh dokter manapun di dunia. Tak ada tanda-tanda fisik yang tampak jelas oleh mata orang yang terjangkit penyakit ini. Semua hanya bisa terlihat ketika kita kita sangat dekat dengan orang itu. Lebih lanjut, belum ada satupun apoteker yang bisa meramu obat untuk menyembuhkan penyakit jenis ini.

( Hahahaha… terlalu dan sangat terlalu membesar-besarkan kayaknya gambaran di atas )

Jujur dan percaya, penyakit itu pernah menghampiri saya. Meskipun pada akhirnya dapat teratasi. Penyakit itu tak lain dan tak bukan adalah “MALAS”. Kalau dipikir-pikir sih ini bukanlah sebuah penyakit tapi kalau dipikir-pikir lagi bisa jadi sebuah penyakit. ENTAHLAH !!!

Ahhh.. Tinggalkan masalah penyakit itu… Tidak jelas ji juga…

----------------------*****----------------------

Malas.. Malas.. Malas.. Merupakan momok yang sangat menakutkan. Entah dari mana datangnya itu. Tidak pernah dipanggil dan diharapkan datang. Tetapi dia datang begitu saja, malahan selalu mengikuti di segala aktivitas sebagai “pengganggu”.  Malas seolah-olah menjadi TEMAN ( Ahh.. Tidak..!!!!! Cuma dia yang menganggap kita teman, tapi tak sedikit pun berpikir tuk berteman dengannya.. ). Tetapi kalau dipikir, memang malas seolah-olah menjadi teman, yang sangat setia meskipun dalam kenyataannya merupakan “teman yang tidak dianggap”.

Malas.. Malas.. Malas.. Selalu membayang-bayangi setiap hari. Di saat berada di titik kejenuhan dan aktivitas yang sangat padat, dia semakin setia menemani. Malah di jadi “penyemangat” untuk semakin jenuh dan bosan dengan apa yang kita kerjakan. Lebih parah lagi, malas bisa menjadikan kita menunda-nunda pekerjaan. Membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang jelas yang kita kerja. Malas juga bisa membawa kita untuk meraih sebuah achievement dan berbagai award sebagai “The Best Procrastinator”. Sebuah penghargaan yang sangat dan sangat tidak diharapkan ( meskipun ada sertifikat dan pialanya )

***
           
Sekaranglah waktunya untuk berpisah teman.  “Terima Kasih” kau telah menemani hari ku selama ini meskipun itu tidak saya harapkan. “Maaf” aku tak bisa berteman lagi dengan mu dan memang tak bisa dipungkiri, sejak lama aku ingin ini terjadi . Aku telah menemukan “sahabat” ku lagi yang selama ini kucari-cari. Dia-lah sahabat terbaikku yang akan menemani hari-hari ku ke depan ( My [Lost] Spirit ).

Selamat Jalan “Teman”.. Waktunya tuk berpisah
Semoga Kau tak kembali lagi ke sini

Sebenarnya Tidak Ada yang Berubah



“kau tak seperti yang ku kenal dulu, ada yang berubah dari mu”
Sebuah kalimat yang cukup menggelitik ditelinga. Sebuah kalimat yang tidak disangka-sangka akan keluar ketika sedang asik chat dengan teman lama. Awalnya semuanya biasa saja, berbagi pengalaman tentang dunia kampus dan apa yang telah di dapat selama ini. Hingga mungkin ada cerita tentang aktivitas yang saya jalani sekarang yang mungkin serasa aneh bagi mereka. Karena sungguh berbanding 180 derajat dengan saya ketika masih sekolah.

Saya menilai semua itu wajar. Dinamika kehidupan kampus yang telah membuat saya menjadi seperti demikian. Banyak pelajaran hidup yang  didapatkan disini, dari hal yang terkecil sampai hal yang cukup besar. Kehidupan kampus merupakan miniatur kehidupan yang sesungguhnya. Keras-nya kehidupan memaksa kita untuk mengikuti alur yang ada agar dapat bertahan hidup. Tetapi tidak semuanya diikuti seratus persen, tentunya masih ada filter yang kita gunakan untuk menyaring yang mana yang baik dan tidak baik.

Fungsi kampus sebagai tempat belajar, dimanfaatkan sebaik mungkin. Mengeksplorasi segala ilmu yang ada di kampus. Baik itu di bangku kuliah, organisasi dan di segala tempat yang ada di lingkungan kampus.
Kampus begitu nyaman menjadi tempat beraktivitas. Seolah-olah malas untuk beranjak dari sini, segala sesuatu yang dibutuhkan tersaji disini. Hal ini berlaku ketika kita sudah mendapatkan zona nyaman. Semuanya begitu indah, kampus seakan-akan seperti rumah sendiri.

Terlalu banyak keindahan yang ada di kampus. Terlalu banyak yang telah terekam oleh memori. Dan mungkin akan terkenang sampai kapanpun.

****

Sedikit menanggapi pendapat teman tadi. Aku menyadari mungkin ada yang berubah dalam diri saya yaitu berubah menuju kedewasaan, memperbaiki apa yang terasa kurang dalam diri saya selama ini. Dan mungkin hal itu wajar dan pasti dialami oleh setiap orang. Tetapi pada dasarnya saya masih yang dulu lagi, temanmu dan sahabatmu yang kau kenal semasa sekolah. Perubahan yang terjadi tak serta merta membuat saya lupa akan diri saya yang dulu.

Aku masih bisa bertahan dengan karakter saya yang dulu

10 September 2011

Entah Apa Namanya

Ditengah kondisi yang mulai terasa panas. Rindu akan lahirnya sebuah gagasan baru yang kadang dianggap gila. Dari salah satu sudut kampus tempat di mana aku berdiam diri dalam beberapa tahun terakhir. Menjalani segala aktivitas sehari-hari dari matahari terbit sampai matahari terbit kembali. 

Suasana kampus yang lumayan ramai karena kebetulan sedang ada acara membuat pikiran lebih terasa fresh untuk berpikir apa yang harus di lakukan ke depan. Menyusun rencana demi rencana demi sebuah tujuan besar. Kata demi kata tersusun rapi dalam bentukan sebuah konsep dan time schedule. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pun ikut terpikir. Tetapi sebuah harapan besar, rencana-rencana yang telah disusun dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Malam ini aku mencoba merealisasikan mimpi-mimpi yang selama ini hanya tersimpan di pikiran...
Semoga ada hasil yang bisa tercapai dalam beberapa bulan ke depan..